Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2015

Sore


Tulisan oleh Angga Wiradiputra | @hitosick
Foto oleh Wiwin Fitriyani | @wiwinwfy
_____


Sore, ketika kita akhirnya bisa bercerita, tertawa, melepas lelah dan berteduh setelah siang yang terik. Bagaimana pagimu? apakah masih terasa sejuk? Bagaimana siangmu? apakah masih terlalu terik? Dan apakah debu-debu itu masih selalu menghantam mukamu yang penuh peluh?

Mari bicarakan disini, saat ini, sore ini.

Kau boleh melonggarkan dasi yang mengikat erat di kerah bajumu, dengan segelas teh hangat dan lelucon garing yang hanya kita yang bisa mengerti itu, maka kita mulai melupakan siang yang terik dengan debu yang selalu yang selalu menghantam peluh. Setidaknya kita masih punya beberapa jam sebelum malam. Maka cukuplah kita hanya bercerita yang menyenangkan, dan keluh kesah sudahlah lupakan saja, jangan sampai mengganggu sore ini.

Tertawa saja teman jangan sungkan, pancarkan binar matamu, biar aku ingat dan aku simpan sebelum malam, karena malam biasanya terlalu gelap untuk aku melihat senyummu, dan melihat arah pandangan matamu ketika aku bercerita.

Sore ini seharusnya menjadi milik kita. Karena pagi biasanya menjadi milik 'bos'mu yang memintamu untuk datang tepat waktu, membuatmu selalu berpacu dengan gerutu karena merasa malammu belum cukup panjang, sehingga akan berat bagimu meninggalkan malam untuk menyambut pagi. Dan siangmu biasanya menjadi milik kekasihmu yang memintamu untuk menemaninya makan siang, membelai rambutnya, dan menggenggam tangannya. Jadi...

Sore ini, cerita ini, dan tertawaan ini seharusnya menjadi milik kita. Sebelum aku atau kamu yang pergi.

Nanti.

Minggu, 01 Juni 2014

The Kuda Merilis E.P. Duka Kuda


Sabtu, 31 Mei 2014 The Kuda merilis E.P. terbaru yang berjudul Duka Kuda di ruangrupa dalam naungan RRR (ruru record) sebagi rilisan perdana. Duka Kuda adalah proyek seni ruangrupa dalam mengikuti pameran 7th Asia Pacific of Contemporary Art: APT7 pada tahun 2012 di Brisbane, Australia foto dokumentasi event ini bisa dilihat disini.

Dalam acara ini menampilkan DJ Nick Hefner, Seaside dan Bequiet lalu tentu saja The Kuda. Tapi foto-foto yang ada disini hanya Bequiet dan The Kuda, buat DJ Nick Hefner dan Seaside saya ga sempet motretin karena begitu dan iya begitu.. wah baru perdana sih liat Bequiet, mereka ngehe! padahal bapak-bapak hehehe selamat liat-liat fotonya.   (morp)











.

Selasa, 27 Mei 2014

Perpustakaan Zine Bandung (Rilis-Pers)

Tahun 2012 dan 2013 gelaran Bandung Zine Festival dapat terlaksana secara mandiri atas inisiatif dari kawan-kawan Network Of Friends Bandung, yaitu sebuah event yang mempertemukan banyak penggiat media alternatif (fanzine) seperti pembuat zine, distributor zine, penerbit media alternatif dan penikmat zine itu sendiri. Di tahun yang ketiga ini (2014) Network Of Friends Bandung sengaja memberi jeda untuk tidak mengadakan Bandung Zine Festival terlebih dahulu dengan mencoba menjalankan beberapa proyek yang telah mereka susun dan rencanakan pasca gelaran Bandung Zine Festival (baik gelaran yang pertama dan yang kedua). Sebuah proyek kolektif yang masih terporos pada zine. Salah satu proyek yang telah mereka rencanakan adalah membuat Perpustakaan Zine di kota Bandung.

Apa itu Perpustakaan Zine Bandung?

Sebuah ruang alternatif yang dikelola secara mandiri untuk distribusi informasi berupa media alternatif (fanzine) dari kawan-kawan Network Of Friends Bandung, sebagai bentukan lain dari apa yang telah mereka buat setelah acara tahunan Bandung Zine Festival sebagai satu rangkaian yang utuh.

Ruang alternatif ini berbentuk sebuah perpustakaan zine yang akan menyediakan banyak media cetak alternatif seperti zine khususnya dan media cetak alternatif lainnya (seperti newsletter, pamflet, booklet, katalog, flyer, dll) dengan tujuan mempermudah siapapun untuk bisa mengakses zine, literatur alternatif lainnya, dan informasi yang terkait dengan keduanya, sekaligus sebagai upaya pengarsipan/ pendokumentasian media alternatif (fanzine) yang telah terbit dan beredar di Indonesia sejauh ini.

Bagaimana Perpustakaan Zine Bandung beroperasi?

Sebagai permulaan, saat ini kami masih mengumpulkan dan mendata ulang koleksi zine pribadi yang kami miliki, yang nantinya digunakan untuk bahan bacaan di Perpustakaan Zine Bandung. Sebagai sebuah proyek mandiri, pendanaan adalah masalah klise yang akan selalu dihadapi, oleh karena itu kami berinisiatif membuat beberapa benefit project guna keberlangsungan proyek Perpustakaan Zine Bandung. Salah satunya yang sedang kami lakukan adalah membuat sebuah album kompilasi Pustaka Nada Masa Kini berbentuk CD-R berisi 20 band dari jejaring kawan dari berbagai kota.

Hasil penjualan album kompilasi ini sepenuhnya akan kami gunakan untuk pembiayaan awal fasilitas operasional, yaitu: ruang, penyimpanan (storage), pemeliharaan (maintenance) dan distribusi. Tentunya juga, tujuan strategis dari proyek benefit ini salah satunya adalah alokasi dana untuk hal yang dianggap mendesak sebagai bentuk solidaritas dari kami, yang diharapkan dapat menghidupkan kembali semangat 'dari komunitas, untuk komunitas'.

Sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh kawan yang terlibat dalam pembentukan Perpustakaan Zine Bandung, juga kepada kawan-kawan yang telah memberi donasi, baik berupa donasi finansial, koleksi zine pribadi, atau dengan membeli kompilasi Pustaka Nada Masa Kini sebagai bentuk dukungan (support) terhadap proyek yang merupakan bagian dari konservasi/ pelestarian zine-zine yang kami miliki.

Saat ini kami mempunyai ruang sementara yang dapat digunakan sebagai Perpustakaan Zine Bandung, bertempat di Jalan Vijayakusumah XVII Komp. Angeli Asri, Cijambe, Bandung Timur. Jika ada kawan-kawan yang berminat untuk mengakses zine ataupun informasi tentang zine dan ingin berkunjung, dapat mengontak terlebih dahulu ke alamat e-mail kami (bandungzinelovers@gmail.com)

.

Jumat, 18 Oktober 2013

GELAP TERANG DIKSI BENTUK RUANG


Tulisan : Angga Wiradiputra
Foto : Feri Setiawan

Aku  adalah yang meredakan lelah ketika dia ingin terlelap dalam gelap. Sinar yang benderang adalah yang membutakan mata. Maka dari itu mata hatinya gelap olehnya. Kontradiksi analogi gelap terang dalam balutan nurani yang terkotori cahaya dalam warna-warni pelangi. Warna warni yang tak terlihat ketika gelap. Karena itulah mungkin dia berpikir jika aku tak berwarna. Gradasi setelah senja seakan tak begitu indah untuk disaksikan pasang mata yang memandang.

Ini kesekian kalinya sejak ditasbihkannya aku dalam artian tak kasat mata. Sebentuk wujud yang tak terlukis karena terkikis teori bentuk. Isi ruang ilusi tak seharusnya simetris dan bergaris. Sejauh apapun aku berasumsi tentang ini, nyatanya aku adalah gelap yang sering dikeluhkannya. Dikalahkan cahaya yang membutakan mata. Namun jika saja sebelah matanya bisa merasakan, maka dia akan mengerti jika gelap adalah teman setia, peneduh setelah terik yang dibuat oleh cahaya. Sampai ini hampir menuju titik, dia masih mengeluh akan gelap. Aku ada, raba saja, dan rasakan seperti apa. Gelap itu bukan sebuah diksi kebanyakan yang bisa dialibikan dengan kata ganti kosong. Karena kosong itu berarti tak ada. Sesuatu yang tak ada tak akan bisa dirasakan, dan tentunya kau tahu itu. Tapi ini bisa terasak kan? Apa masih bisa kau sangkal jika aku tak ada?

Dalam artian sebenarnya gelap bukan berarti tak ada cahaya, namun kurang cahaya. Pun begitu sunyi yang masih bisa kau dengar bisikannya. Ketika dalam balutan luka pun selalu ada senyum setelahnya. Maka seharusnya kau mengartikan aku sebagai sebuah penawar dari kelelahan mata terhadap cahaya, dalam artian setelahnya. Setelah kau lelah dan ingin berdenting dalam hening. Lain lagi dengan artian sebelumnya. Sebelum kau sampai pada titik lelah, terjebak dalam keramaian bersama cahaya dan kebisingan, kau teriak sekencang apapun tak akan terdengar berdenting. Terlalu banyak yang berkata nyaring, sehingga kau butuh hening untuk bergumam dan berbisik lirih.

Jadi masih mau menyalakan lampu?

Padahal jelas lampu adalah hasil rekayasa cahaya. Untuk sesuatu yang palsu saja kau bergantung padanya. Maka apa yang nyata, jika nyatanya sebuah replika rekayasa cahaya saja kau anggap nyata. Gelap terang dalam sebuah seri cerita bergambar setiap harinya. Coba terpejam. Apa yang kau lihat? Utopia kah? Artefak diri kah? Atau sebuah cerita sebelum dan sesudahnya?

Itu mimpi ya? Kau bertanya

Iya. Gerbang menuju kesana kan melalui gelap. Maka masih mau menyalakan lampu? jawabku, yang tentunya tidak dalam bentuk sebuah dialog antara aku dan dia.

___________________________

Angga Wiradiputra | @nadapena
Feri Setiawan | @feri_stwn

Senin, 30 September 2013

PAMUMINGSOLAM


Ada yang menarik di daerah seputaran kisamaun, pasar lama tangerang di minggu malam. Ditengah pasar swalayan yang kini makin menggempur habis-habisan, tutup satu tumbuh sepuluh tangerang yang dulunya dikenal sebagai kota industri dan satelit bagi kota jakarta kini mulai berkembang dan sepertinya mulai terlihat "seksi" di mata para pembuat rumah belanja yang kian binal.. aw!

Ke-seksi-an itu ada disini di PAMUMINGSOLAM (Pasar Muda Minggu Sore Sampe Malam) dimana pada saat pemilik kios-kios toko memang sengaja tutup pada hari minggu, ada sekelompok kecil komunitas yang mengganti kekosongan itu, bercengkrama, berbagi, berjualan untuk berpenghasilan, mengadakan workshop, melukis, menggambar sampai bermain musik. Penulis merasa tertarik, lalu mengirim pesan di fesbuk untuk bertanya-tanya tentang PAMUMINGSOLAM yang sudah sampai pada edisi ke 40 ini, lalu yang menjawab adalah kaka Edi Bonetski.

"PAMUMINGSOLAM ada untuk memberi sedikit ruang baru buat daya hidup kaum muda tangerang yang asik, ditengah 'monster-monster' yang belum menjadi manusia asoy nan aduhay." Edi Bonetski

Ada Tiangart Gallery di samping kanan, ada rumahpaku (area rumah kosong yang dijadikan sebagai panggung musik-musikan) di samping kiri lalu ada toko komputer bernama 'Penguin' yang memang tutup di hari minggu di tengahnya, di trotoar kita bisa minum kopi saset sambil terkadang berbagi makanan seperti pada saat edisi ke 39 yang juga ulang tahun dari HeyHello! bahagianya.

"kami hanya ingin siapapun tanpa kecuali sanggup berbuat yang asik dengan akal sehat, kejujuran, dan keseimbangan sebuah tempat hajat hidup yang bernama 'kampung halaman Tangerang' jadi pamumingsolam menuang enerji, spirit bagi siapa saja, untuk siapa saja, seperti enerji positifnya kisamaun pasar lama" sambung kaka Edi saat ditanya apa harapan kedepannya buat pamuningsolam. Kalau sudah seperti ini ayo semua ke PAMUMINGSOLAM dan tebar senyuman.. :)



Senin, 29 April 2013

Anzi Matta


Tulisan ini pernah dimuat di house of horror zine vol. 2 interview singkat-singkatan yang sedikit mengupas-ngupas tentang seorang anak gadis yang sekarang tinggal di magelang, jawa tengah. Anzi "matta" Nadilla namun bukan personil dari grup matta ben. Suka menggambar, mendengarkan musik lalu menggambar tentang musik belakangan ini. Iya, lumayan pedes juga. (morp)


Nama aslimu? Darimana berasal?
Aku Anzi Nadilla, Bogor, Indonesah

Sekarang tinggal di Magelang, Kamu orangnya travelling banget yah?
Iya soalnya bapak TNI nicsssss :((((
Iya dong tapi hati aku mah ga travelling loh #eh

Mulai suka nyeni dari kapan?
Duh nyeni apa nih? gambar? ato apa?
Saya sik ga tau nyeni apa gitu

Kamu suka gambar dari kapan?
Dari kecil yah, mmm dari tk selalu pengen ikutan lomba gambar tapi ga pernah menang

Sedih ga? yang paling dukung kamu ngegambar siapa?
Kalo masih kecil sedih sih yah ga pernah menang, tapi lama kelamaan karena ga sering menang jadi ga sedih deh. Duh bingung nih. dua-duanya dukung kok, soalnya mereka berdua (emak-bapak) pinter gambar. Tapi itu waktu aku kecil, lama-kelamaan dua-duanya ga dukung deh.. Payah kan? -,-

Tapi sekarang di dukung sidoy dong?
Eaa dong, (tapi) gatau deng, asal cintaku mendukung :")

Buku "Kemerdekaan Bawah Tanah" itu tentang apa?
Hihihi :") mayu.. Iya, isinya 92% puisi, 5% foto-foto, 2% cerpen. (tapi) itu ngawur beuts :)).
Puisinya soal indonesiah di mata akoh dan kata orang-orang hehehhe pokonknya yah intinya menggambarkan keadaan setelah kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia, yang toh nyatanya..
Ya gitu deh.

Nyatanya kaya apa?
Kalo menurut saya, yang ga tau apa-apa tapi selama ini sok tau, kemerdekaan indonesiah yang sekarang itu ga ada artinya, ga ngerti arti merdeka, karena sekarang aja begitu banyak pembatasan. Pokoknya merdeka indonesia itu kalo kita-kita (bukan cuma rakyat) bisa melawan lupa, ga ada korupsi, rasis-rasis gitu, kita merdeka deh ntar, makmur. Mau berkarya juga makin santee.. ga takut dilempar ama fentung, jadi merdeka. Eh ngawur nih

Kalo gede mau jadi apa?
Susah ini pertanyaannya. Seriusan, kalo gede mau jadi diri sendiri aja. Jurnalis yang bisa menjadi dirinya sendiri #eeh

Tapi ga ada jurnalis yang bisa jadi diri sendiri, kadang diatur par-tai
Eyaaaaaalaaaaaah *tau. Itu maksudnya beda, cuma digabungin aja biar hemat kata :))
Ih kaya koran inisial "kompas" itu kan? #eh

Magelang saat ini kaya apa?
Magelang? mmm.. beberapa anak muda kekinian dari magelang berusaha membenahi magelang dari kemiskinan musik dan kemiskinan ilmu pengetahuan. Hiks

Ada geng-geng yang suka bawa golok terus ngebajak bus buat tawuran ga disana?
Wah disini mah ga ada, eh paling geng motor mabok terus ngeluarin tititnya. Udah gitu-gitu aja. Jarang sih geng-geng bawa golok, pake peci kan? Biasanya yang pake peci gitu dari luar kota. Ew

Punya teman imajiner?
Sekarang sih jarang dan karakternya sering berbeda-beda. Kalo dulu waktu kecil pernah nemanya "zena" berasa adek kakak. Seneng banget, suka ngobrol sendiri :")

Sibuk apa sekarang?
Sibuk gambar, sibuk gambar buat lomba ama pameran mendatang.. cieeeee. Sibuk belajar (biar ga keteter), pokoknya sibuk-sibukin diri buat berkarya deh. eaaaaaa..

Produktif banget, ko bisa sih?
Yak bisa aja sih, aku kan pawang ular berbisa. Jadi bisa ngapain aja

Kamu penyayang binatang yah, binatang buaya dan kadal juga ga?
Eaps doms. Buaya darat aja aku sayang, walaupun juga bikin sakit. eaaaaaa..

Kamu menulis tentang kimcil di blog, kamu itu kimcil bukan?
Tulisan mana sih? aku kimcil → kimpet cilik
Maaf, aku masih lugu

"Merintih Perih"  Pencil on Paper 11" x 16" - 2013


Senin, 18 Februari 2013

kala

foto oleh morp

Tulisan oleh : wfy

Artikel yang bagus biasanya jadi sorotan khusus buat dibaca, apalagi kalau pengisinya adalah orang-orang keren. Tapi kita anak-anak tanggung yang cuma bisa bikin zine fotokopian, namanya house of horror ga ada filosofi khusus kayak nama ben-benan bernama Noah.

Kita cuma sekumpulan mahasiswa yang suka kumpul lalu bingung buat ngisi liburan UAS. Alhasil kita bikin iseng-iseng zine ini. Walaupun (katanya) sekarang sudah sedikit yang mau bikin zine. Jamannya sudah maju, sudah digital. Informasi makin mudah buat di akses secara binal. Tapi, kita suka dengan sebuah proses, kita bikin zine ini. Kita ga mau nunjukin apa-apa, kita cuma penyalur atau pemberita "ini loh, karyanya bagus".

Kita ga mau jadi media online, walaupun kita juga online yang batasannya juga ga penuh dengan deadline. Yah pokonya gitu lah...

Ditulis sehabis pulang dari kantor-kantoran.


.

ANTI-TANK

foto : dokumen ANTI-TANK

Tulisan ini pernah dimuat di house of horror zine vol. 1 bagaimana anti-tank menceritakan asal mula dia merajah tembok kota dan semangat perlawanannya. (morp)

ANTI-TANK adalah sebuah proyek kecil-kecilan yang saya mulai sejak 2003, di sebuah kota kecil Pematangsiantar, SUMUT. Ini adalah proyek pribadi berdasarkan inisiatif dan spontanitas saja pada awal kelahirannya. Kelahirannya berasal dari sebuah scene punk di sana, yang awalanya hanyalah bertujuan sebagai nama band saya. Saya membawa nama ANTI-TANK kepada teman - teman sebagai alternatif pencarian nama band. Dan berita hebatnya akhirnya nama itu tidak disetujui oleh semua anggota, dan hebatnya lagi band itu bubar tanpa menghasilkan apa pun, kecuali menghabiskan waktu untuk bersenang - senang.

Setelah mimpi akan band itu terlupakan, saya memakai nama ANTI-TANK untuk semua proyek pribadi saya. Seperti membuat emblem, komik, poster, zine dan berbagai artwork pesanan teman. Saya memilih nama ANTI-TANK untuk semua proyek saya adalah karena saya tak mungkin menggunakan nama Andrew pada setiap karya dan karena saya memang menyukai sebuah konsep nama yang melibatkan unsur kata "ANTI". Ini dikarenakan untuk iklim punk di daerah saya, scenenya bisa terbilang primitif dan politis (meski juga tidak politis amat) Sebahagian besar dari kita masih tertarik dengan isu-isu politis dan menomor sekiankan cerita tentang musik dan genre-genre nya. Jadi isu yang beredar disekeliling kita adalah isu seputar anti militerisme, anti globalisasi, anti fasisme/rasisime dan ke anti-anti an lainnya. maka dari sana saya pikir saya harus menggunakan unsur ANTI tersebut pada nama yang ingin saya bentuk.

Kemudian saya menemukan "TANK" -nya ketika menonton berita di tv tentang militan yang menghancurkan tank Amerika dengan senjata roket ANTI-TANK. Wow! ini dia yang saya cari! "TANK" tersebut adalah sebuah simbolisasi sempurna dari militerisme yang dulu banyak mempengaruhi pola pikir kita di scene punk. Dan dari situlah nama ANTI-TANK berasal.

Aktivitas ANTI-TANK di awal kelahirannya banyak berkisar pada pembuatan artwork personal atau poster gig atau poster protes yang saya buat untuk protes ini itu. Walau hanya fotokopian dan berukuran A4, saya sangat menikmatinya. Mulai dari ide, proses pengerjaan hingga eksekusinya. Meskipun saya tidak pernah tahu bahwa itu ternyata dikenal dengan sebuah tehnik street art wheatpaste. Tapi bagi saya ketika itu poster adalah sebuah hal yang harus saya lakukan dan sangat tak mungkin untuk mengabaikannya. Poster dan menggambar adalah hal yang sangat penting kala itu. Poster-poster itu saya tempel di beberapa tempat sepanjang jalan dari SMA saya hingga ke rumah. Saya melakukannya disiang bolong dan sendirian, menempel nya dengan begitu polosnya lengkap dengan seragam sekolah dan tidak sadar bahwa itu adalah ilegal! Tapi tentu disaat itu dimasa dimana internet belum seperti sekarang tak ada yang begitu peduli dengan poster asal - asalan itu. Disamping saya menempelinya di jalanan saya juga membagikannya kepada teman - teman yang berminat. Bagi saya ide tentang melakukan dan berbagi sesuatu adalah sebuah ketertarikan bagi saya.

foto : dokumen ANTI-TANK
Ketika saya tiba di Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah, barulah saya membawa ANTI-TANK kepada wujudnya yang sekarang. Ketika saya melihat kemegahan mural dan graffiti, poster dan stiker, Taring padi dan Apotik Komik, semangat dan gairah, kegilaan dan keberanian, disitulah saya semakin tak bisa tidur. Bagaimana mungkin saya bisa pura - pura tidak melihat dan mengabaikan apa yang dilakukan oleh orang - orang itu pada tembok tinggi di Sagan, pada apa yang terjadi dengan pertempuran cat semprot di Jokteng, Kusumanegara, Tugu dan puluhan spot lainnya yang semakin hari semakin gila dan menggairahkan. Disetiap pagi ketika saya harus pergi kekampus dan melihat semua keriuhan karya - karya baru masih basah sisa pertempuran tadi malam. Saya pikir saya harus ikut ambil bagian dengan apa yang terjadi di sini. Tak mungkin diam saja, membudakkan diri pada hegemoni kampus.

Jadi pada dasarnya apa yang sedang saya lakukan sekarang adalah bagian dari praktik mata pelajaran paling fundamental dari kultur punk yaitu Do It Yourself nya. DIY adalah hal yang saya yakini hingga sekarang. Melakukan apapun yang saya sukai dan yakini, tanpa harus peduli dan menghabiskan energi pada lingkar kotak defenitif semu dekonstruktif tak penting. Entah DIY itu bermuara pada politik, seni, komunitas, perilaku, teman atau percintaan. Ahh... 


.

dongeng kamar seram

foto dokumentasi oleh wiwin wfy


Tulisan oleh : morp

Saya teringat waktu caki membuat page bernama house of horror. Sebutan saya untuk rumah atau lebih tepatnya adalah kamar yang berletak di bilangan ciledug pinggiran jakarta selatan mepet banget sama tangerang. Tempat saya singgah kalau malas pulang kerumah, tempat saya mengerjakan tugas kelompok dari kampus, dan berujung pada pembelian minuman khas lokal hingga terbentuk secara otomatis suatu komunitas anak-anak jurusan komunikasi visual yang mau berkarya. Itu niat awal house of horror.

Bercerita tentang tempat ini. Kamar berukuran kurang lebih dari 5x5 m ini berwarna pink awalnya, mempunyai lampu bercahaya mendekati remang-remang di satu sisi, mempunyai satu buah komputer, sampah bekas makanan instan dan abu rokok selalu berserakan di lantainya yang berkarpet kumal, banyak coretan keluh kesah di temboknya, serta terbuka bagi siapa saja 24 jam. Namun, hanya cukup sepuluh orang disana dan sudah kehabisan nafas. Atas dasar faktor negatif-positif itu teman-teman sering menyempatkan diri main di kamar ini dari malam belum larut sampai pagi kesiangan. Kamar ini seram, banyak sekali kejadian dimana suara-suara aneh terdengar, benda-benda bergerak sendiri (sampai cursor bergerak sendiri). Tapi saya sendiri tidak pernah mengalaminya, pengalaman tadi diceritakan oleh caki yang punya kamar dan beberapa teman.

Di kamar ini adalah tempat saya pertama menggambar secara besar. Ya besar bagi saya, namun pasti biasa bagi orang-orang. Besar bagi saya, namun ini masih karya sepele. Sebuah gambar manusia berkepala televisi, menceritakan media besar yang selalu meracuni kita setiap hari merubah pola berpikir dan mempengaruhi tindakan orang-orang. Media itu 'berbahaya'.

tv man - morp 2011
Saya berpikir efek media itu luar biasa lalu mengapa kita semua tidak menjadi media saja? mengabarkan hal yang kita suka dan menyebarkan hal positif untuk perubahan yang lebih baik itu membuat siapa saja senang. Pemikiran seperti ini terbersit sewaktu melihat kondisi kampus saya yang sepi dan jarang ada pergerakan dalam hal berkarya.

Pergerakan aktif memang tidak mudah, tapi kalau sedikit-sedikit dilakukannya dan secara rutin maka akan terlihat hasilnya, terlebih lagi jika dilakukan secara ikhlas dan penuh kecintaan. Seperti melihat kesenian, segalanya akan terasa asyik.

Dimulailah proyek membuat zine. Saya mengerjakannya bersama wiwin wfy, pacar saya. Zine murah tapi belum gratis dengan kemasan yang masih mentah ini di produksi sebanyak 40 buah saja. Memuat hal yang kami suka dengan bantuan submitter lintas kota provinsi karena bantuan internet. Ketagihan adalah efek lanjutannya, saya mendapat teman-teman dan ilmu-limu baru yang sebelumnya belum saya ketahui dari komunitas zine diluar sana. Pengalaman yang seru.

Kamar ini sudah tidak ditempati kini. Penghuninya sudah pindah dan bukan di daerah petukangan lagi.
Disaat menulis ini, saya masih berharap kesenangan ini harus terus dilanjutkan.


.